KALIAN AKAN DI PIMPIN OLEH ORANG SEMISAL KALIAN
📖 📖____✒
Ada sebuah kata HIKMAH yang menyatakan bahwa kalian akan dipimpin oleh orang yang seperti kalian. Ungkapan ini adalah sebuah kata hikmah yang SERING diungkapkan oleh para sejarawan dan sosiolog .
Seakan ungkapan tersebut sudah menjadi KAIDAH baku dalam masalah kepemimpinan dan didukung oleh penelitian terhadap sejarah.
Faktanya , hampir semua jamaah atau kelompok masyarakat itu DIPIMPIN oleh orang yang SESUAI dengan kwalitas kebaikan masyarakatnya.
Jadi, setiap pemimpin adalah cerminan rakyatnya, sebagaimana ketika Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan Fir’aun sebagai penguasa bagi kaumnya, karena mereka SAMA seperti Fir’aun. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ
“Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (Az-Zukhruf/43:54).
Dalam ayat ini Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan bahwa kaum Fir’aun adalah orang-orang fasik . Oleh karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan orang yang SEPERTI mereka sebagai PENGUASA mereka.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “al-khafif (dalam ayat tersebut) berarti orang dungu yang tidak beramal dengan ilmunya, dan ia selalu mengikuti hawa nafsunya .”
Jadi sejatinya ungkapan “Kalian akan dipimpin oleh orang yang seperti kalian” adalah kata hikmah zaman dulu kala.
Tentu ini sudah cukup menjadi BUKTI nyata akan keberadaan kaidah ini di zaman dahulu.
Namun kaidah ini diketahui awal mulanya meskipun ia sudah menjadi kaidah baku dalam masalah kerakyatan dan kepemimpinan.
Individu adalah SEBAB pertama munculnya bencana, juga telah dijelaskan bahwa semua orang itu akan merasakan buah dari amal perbuatannya.
Diantara wujud dari buah amalannya itu adalah KONDISI para pemimpin mereka. Karena kondisi mereka sesuai dengan prilaku masyarakat , sebagaimana peribahasa bahasa arab yang artinya kezhaliman penguasa itu disebabkan oleh kezhaliman yang dilakukan rakyat.
Diantara dalil-dalil dari Alquran dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta pemahaman salaf mengenai kaidah ini adalah dalil-dalil yang telah disebutkan dalam pembahasan tentang (hukuman disebabkan oleh dosa), misalnya :
Firman Allah ‘Azza wa Jalla :
Yang artinya, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (As-Syura/42:30).
Kezhaliman seorang pemimpin adalah musibah yang mengancam umat. Dan Allah sudah memberitahukan bahwa PENYEBAB musibah adalah kesalahan umat .
Dalil lain untuk kaidah ini adalah kisah perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang MEMFOKUSKAN diri untuk mendakwahi masyarakat umum, TIDAK FOKUS pada jajaran konglomerat, pejabat, penguasa serta tokoh masyarakat.
Cara dakwah semacam inilah yang merupakan METODE berdakwahnya para Nabi.
Sebagai tambahan, saya sebutkan dalil-dalil lain dibawah ini :
Diriwayatkan oleh Abu as-Syeikh dari Manshur bin Abi al-Aswad, ia berkata, “Aku bertanya kepada al-A’masy tentang firman Allah ‘Azza wa Jalla :
وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (Al-An’am/6:129).
Apa yang kau dengar dari perkataan mereka tentang ayat ini?
Ia menjawab, “Aku mendengar mereka berkata, ‘Jika manusia SUDAH RUSAK maka mereka akan DIPIMPIN oleh orang-orang jahat mereka”
Orang dahulu juga mengatakan,
“Kerusakan atau keburukan yang engkau INGKARI pada zamanmu, itu sesungguhnya AKIBAT dari TINDAKAN dan perbuatanmu sendiri.”
Abdul Malik bin Marwan rahimahullah juga pernah berkata,
‘Wahai rakyatku! Sungguh KALIAN tidak berlaku adil pada kami. Kalian MENUNTUT kami berlaku seperti Abu Bakr dan Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhuma akan TETAPI KALIAN TIDAK berlaku seperti keduanya. Kami memohon kepada Allah agar setiap individu saling membantu.’
Qatadah rahimahullah berkata, “Dahulu Bani Israil pernah mengatakan,
‘Wahai Tuhan kami! Engkau di langit sementara kami di bumi, lalu bagaimana kami dapat mengetahui ridha dan murka-Mu?’
Lalu Allah ‘Azza wa Jalla mengilhamkan kepada sebagian para Nabi-Nya
“Kalau Aku angkat orang-orang baik sebagai pemimpin kalian, berarti Aku ridha kepada kalian. Kalau Aku angkat orang-orang jahat sebagai pemimpin kalian, berarti Aku murka kepada kalian.’
Abidatu as-Salmaini berkata kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,
“Wahai Amirul Mukminin! Apakah gerangan Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhuma, kenapa semua rakyat tunduk dan patuh kepada keduanya? Wilayah kekuasaan yang semula lebih sempit dari satu jengkal lalu meluas dalam kekuasaan mereka? Lalu saat engkau dan Utsman menggantikannya posisi keduanya, rakyat tidak lagi tunduk dan patuh terhadap kalian berdua, sehingga kekuasaan yang luas ini menjadi sempit buat kalian?
▶ Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menjawab,
“Karena RAKYAT MEREKA berdua adalah orang-orang yang seperti aku dan Utsman, sementara RAKYATKU sekarang adalah kamu dan orang-orang yang sepertimu.”
Seorang laki-laki menulis sepucuk surat kepada Muhammad bin Yusuf. Ia MENGADUKAN perihal kekejaman para pemimpinnya. Muhammab bin Yusuf membalas surat itu dengan mengatakan,
“Suratmu telah saya terima, dimana kau menceritakan tentang keadaan kalian saat ini, padahal tidak sepantasnya pelaku maksiat MENGINGKARI akibat perbuatannya. Menurut hemat saya, keadaan kalian seperti ini tidak lain karena disebabkan oleh dosa-dosa kalian, wassalam.’
Muhammad Haqqi saat menafsirkan makna firman Allah di bawah ini :
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Katakanlah, “Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Ali ‘Imran/3:26).
Kandungan ayat ini adalah
“JIKA kalian adalah orang-orang yang TAAT dan PATUH niscaya Allah ‘Azza wa Jalla akan menjadikan orang yang PENUH kasih sayang sebagai pemimpin kalian. Namun jika kalian PELAKU kemaksiatan, niscaya Allah akan menjadi orang JAHAT sebagai penguasa kalian.”
Yang semakna dengan ini adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla,
وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya . (al-Isra/17: 16).
Allah memberitahukan dalam ayat ini bahwa Dia memberikan kekuasaan kepada orang-orang yang melampaui batas dalam kefasikan mereka untuk rakyat yang LAYAK mendapatkan kehancuran.
Dan tidak diragukan lagi bahwa mereka yang berhak mendapatkan kehancuran dan kebinasaan itu adalah mereka yang ZHALIM, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla :
وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِمْ مَوْعِدًا
Dan (penduduk) negeri telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka” (Al-Kahfi/18:59)
Dengan pengertian seperti inilah sebagian Ulama salaf memahami ayat di atas. Diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ka’ab al-Ahbar bahwa ia berkata ,
“Sungguh pada SETIAP masa pasti ada raja atau pemimpin yang dijadikan oleh Allah SESUAI dengan (keadaan) hati rakyatnya.
Jika Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki kebaikan untuk kaum tersebut, niscaya Dia akan mengutus yang melakukan perbaikan. Jika Allah menghendaki kehancuran atas mereka niscaya Allah akan mengutus mutrafa, ”
Kemudian beliau membaca ayat Alquran yang terdapat dalam surat al-Isra’ ayat ke-16 di atas.
Allah telah memberikan kekuasaan kepada al-Hajjaj bin Yusuf dengan SEGALA kezhalimannya . Ketika imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah melihat masyarakat MEMBENCI dan MARAH terhadap terhadap kekuasaan al-Hajjaj,
Beliau rahimahullah berusaha menasihati mereka dengan berdalilkan kaidah ini,
“Al-Hajjaj adalah HUKUMAN dari Allah atas KALIAN yang belum pernah ada sebelumnya. Janganlah kalian merespon hukuman Allah ini dengan pedang! Namun sambutlah hukuman ini dengan BERTAUBAT kepada Allah dan tunduk kepada-Nya! Bertaubatlah kalian, niscaya kalian akan terpelihara darinya!”
dalam riwayat lain dengan sanad yang shahih bahwa beliau Imam al-Hasan al-Bashri menyampaikan kalimat ini ketika mendapati seseorang yang sedang MEMPROFOKASI masyarkat umum untuk melakukan pemberontakan dan penentangan terhadap kuasa kepemimpinan dan kepemerintahan.
Perhatikanlah! Bagaimana para assalafusshalih mengaitkan kaidah ini dengan larangan memberontak dan menentang serta keluar dari pemerintah!
Imam Hasan al-Bashri mengatakan ini juga kepada rakyat yang berusaha melawan al-Hajjaj yang haus darah, sebagaimana telah dinukil oleh Hisyam bin Hassan, beliau mengatakan, “Coba kalian hitung jumlah mayat yang dibunuh oleh al-Hajjaj secara zhalim. Jumlahnya mencapai 120.000 mayat.”
Inilah yang disampaikan oleh Imam adz-Dzahabi dalam as-Siyar, “Dia adalah seorang yang zhalim, bengis, nashibi (pembenci Ahlul Bait), keji dan haus darah…” bahkan sebagian salaf sampai berani menjatuhkan vonis kafir kepada dia.
Kesimpulannya, tujuan dari penjelasan ini adalah ingin menjelaskan gelar paling ringan disematkan untuk al-Hajjaj adalah ia seorang muslim yang suka membantai dan membunuh rakyat.
Namun meski demikian, para Ulama tetap melarang rakyatnya untuk memberontak. Karena pada hakikatnya, naiknya dia sebagai penguasa adalah sebagai hukuman dari Allah ‘Azza wa Jalla akibat dari dosa-dosa rakyat .
Diharapkan, rakyat segera menyadari dan segera bertaubat, bukan sebaliknya menyambut buah dari dosanya dengan mengangkat pedang ( atau melakukan tindakan anarkis ).
Hendaklah ini menjadi perhatian kita, jika kita ingin mengikuti jejak as-salafus shalih.
Seorang Tabi’in dan seorang ahli ibadah bernama Abi al-Jalad al-Asdi rahimahullah mengatakan,
“Kelak di hari kiamat para pemimpin akan dibangkitkan di hadapan halayak manusia dengan memikul dosa-dosa mereka”
Dahulu seorang penasihat bernama Ibrahim ibn Hamsy berkata,
“Ya Allah, karena perbuatan tangan-tangan kami ini, Engkau berikan kekuasaan kepada seorang yang tidak mengenal dan tidak menyayangi kami.”
Imam ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Ada sebagian para Nabi bani Israel menyaksikan apa yang diperbuat oleh raja Bukhtanashar, lantas iapun berkata, ‘Karena perbutan tangan-tangan kami ini, Engkau berikan kekuasaan kepada seorang yang tidak mengenal-Mu dan tidak menyayangi kami.”
Bukhtanashar menyampaikan pertanyaan kepada Nabi Daniel,
“Gerangan apa yang menjadikanku berkuasa penuh terhadap kaummu? Ia menjawab, “Karena besarnya kesalahanmu dan kezhaliman kaumku terhadap diri mereka.”
Ibnu al-Azraq mengatakan,
“Sudah menjadi keharusan bagi setiap masyarakat untuk selalu mencatat bahwa KEKEJAMAN para pemimpin dan pejabat disebabkan oleh tindakan dan perbuatan rakyat yang jauh dari jalan kebenaran,
Dengan kaidah ini pula Ibnu al-Jazzar as-Sirqisthi mejawab pertanyaan al-Musta’in bin Hud mengenai perihal keluhan rakyatnya dengan puisinya :
Kalian nisbatkan kezhaliman kepada para penguasa kalian
Sementara kalian tertidur (lupa) terhadap buruknya perbuatan kalian
Janganlah kalian nisbatkan kezhaliman kepada para penguasa kalian
Karena penguasa kalian akibat dari perbuatan kalian
Demi Allah, seandainya kalian berkuasa walau sejenak
Tidak akan terbetik dalam benak kalian untuk berlaku adil
Setelah menyampaikan kisah Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin memberikan pesan,
“BEGINILAH dahulu kondisi para khalifah di masa-masa awal umat ini, ketika rakyatnya selalu MENEGAKKAN perintah Allah ‘Azza wa Jalla , takut terhadap siksa-Nya dan senantiasa berharap limpahan pahala-Nya.
Namun ketika rakyat berubah dan mulai MENZHALIMI diri mereka, maka berubahlah pula sikap dan karakter permimpin-pemimpin mereka, Sebagaimana keadaan kalian, begitulah penguasa kalian.”
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menyapaikan sebuah pesan yang sangat menyentuh, seakan belum pernah ada pesan ahli ilmu yang lebih menyentuh dari itu. Beliau rahimahullah mengatakan,
“Renungilah hikmah Allah ‘Azza wa Jalla yang telah memilih para raja, penguasa dan pelindung umat manusia berdasarkan PERBUATAN rakyatnya, bahkan seakan perbuatan rakyat tergambar dalam prilaku pemimpin dan penguasa mereka.
Jika rakyat ISTIQOMAH dan lurus, maka akan LURUS juga penguasa mereka. Jika rakyat ADIL, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun jika rakyat berbuat ZHALIM, maka penguasa mereka juga akan berbuat zalim pula.
Jika menyebar tindakan PENIPUAN di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula pemimpin mereka. Jika rakyat BAKHIL dan tidak menunaikan hak-hak Allah ‘Azza wa Jalla yang ada pada mereka, maka para pemimpin juga akan bakhil dan tidak menunaikan hak-hak rakyat yang ada pada mereka.
Jika dalam bermuamalah, rakyat mengambil sesuatu yang bukan haknya dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka juga akan mengambil sesuatu yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan berbagai beban TUGAS yang berat.
Semua yang diambil oleh rakyat dari orang-orang LEMAH maka akan diambil paksa oleh para pemimpin dari mereka. Jadi ( karakter ) para penguasa itu tampak jelas pada PRILAKU rakyatnya.
Jelas bukan hikmah ilahiyah, mengangkat penguasa bagi orang jahat dan buruk perangainya kecuali DARI ORANG-ORANG YANG SAMA DENGAN MEREKA.
(Diadaptasi dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVIII/1436H/2014M).
www.KhotbahJumat.com
Sumber :
Oleh: Mutiara Risalah Islam
>>>>>>>>🌺🌺<<<<<<<<
0 Komentar